Back Index Next

Jalan menuju rahmat surga memiliki peraturan ketat: seseorang tidak boleh menuruti hawa nafsunya. Semakin dekat seseorang kepada jalan itu, semakin subtil pula amal salihnya.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَ يُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

222. Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, "Haid itu adalah kotoran." Oleh karena itu, hendaklah engkau menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah engkau mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.

Menstruasi bulanan wanita adalah proses penyucian. Menstruasi membuang sel-sel mati dan membersihkan organ reproduksi. Jalan menuju penyucian dan pengetahuan dimulai dengan sesuatu yang kotor nan hina, untuk kemudian bergerak menuju yang bersih dan tinggi. Pengetahuan tentang sebab-sebab penyakit tubuh membuat manusia dapat mengetahui sumber-sumber penyakit hati. Jika manusia dapat menyucikan pakaiannya, tubuhnya, pikirannya, dan lain sebagainya, maka hati orang itu pun akan suci pula. Hukum-hukum fisik yang mengatur kesehatan harus diketahui dan diikuti, karena hukum-hukum itu selaras dengan hukum-hukum yang mengatur kemurnian batin.

نِسَآؤُكُمْ حَرْثٌ لَّكُمْ فَأْتُواْ حَرْثَكُمْ أَنَّى شِئْتُمْ وَقَدِّمُواْ لأَنفُسِكُمْ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّكُم مُّلاَقُوهُ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

223. Isteri-isterimu adalah tanah tempat engkau bercocok-tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanammu itu bagaimana saja engkau kehendaki. Dan kerjakanlah amal baik untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa engkau kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.

Pupuklah kebaikan untuk dirimu sendiri, serta berniat dan berharaplah akan kebaikan. Maksudnya adalah untuk tetap berada di jalan Allah setiap saat dan di setiap Tindakan, sebab kita dapat saja tiba-tiba lumpuh akibat tertidur beberapa detik ketika mengendarai mobil. Pemikahan adalah suatu tindakan pengorbanan, saling berbagi, saling peduli, dan juga tindakan pemuasan diri. Jika pengorbanan itu dilakukan di jalan Allah, maka kebahagiaanlah yang akan menyertai. Keridaan Allah adalah keridaan sang pencari juga. Jika seorang mukmin menyadari bahwa Allah Mahatahu, maka pastilah ia akan berhati-hati dalam segala perilakunya.

وَلاَ تَجْعَلُواْ اللّهَ عُرْضَةً لِّأَيْمَانِكُمْ أَن تَبَرُّواْ وَتَتَّقُواْ وَتُصْلِحُواْ بَيْنَ النَّاسِ وَاللّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

224. Janganlah engkau jadikan Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan perbaikan di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

لاَّ يُؤَاخِذُكُمُ اللّهُ بِاللَّغْوِ فِيَ أَيْمَانِكُمْ وَلَكِن يُؤَاخِذُكُم بِمَا كَسَبَتْ قُلُوبُكُمْ وَاللّهُ غَفُورٌ حَلِيمٌ

225. Allah tidak menghukum engkau disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud, tetapi Allah menghukum engkau disebabkan yang disengaja oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun.

Karena kebodohan dan kecerobohannya, manusia seringkali berpaling dari jalan ketakwaan, sampai akhirnya ia dapat mengendalikan hawa nafsunya dan memunculkan jiwanya yang lebih murni. Tanggung jawab manusia dinilai berdasarkan keadaan dan sifat hadnya yang, jika hati itu murni, membuatnya dapat mendengar dan mengetahui.

لِّلَّذِينَ يُؤْلُونَ مِن نِّسَآئِهِمْ تَرَبُّصُ أَرْبَعَةِ أَشْهُرٍ فَإِنْ فَآؤُوا فَإِنَّ اللّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

226. Kepada orang-orang yang meng-ila' (bersumpah tidak akan meniduri. Peny.-) isterinya diberi tangguh empat bulan lamanya. Kemudian, jika mereka kembali, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Seseorang tidak boleh menggunakan kedudukannya untuk menyiksa isterinya, yaitu dengan bersumpah tidak menggaulinya sesuka hatinya (ila'). Jika ia melakukan sumpah itu, maka niatnya harus dibarengi dengan Tindakan. Dalam artian yang lebih umum, ayat ini meng-ingatkan manusia agar lebih berhati-hati dalam menjaga niatnya, sehingga kecerobohannya tidak menyimpangkan dia dari jalan kesantunan dan kesetaraan.

وَإِنْ عَزَمُواْ الطَّلاَقَ فَإِنَّ اللّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

227. Dan jika mereka bertetap hati untuk talak, maka Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

وَالْمُطَلَّقَاتُ يَتَرَبَّصْنَ بِأَنفُسِهِنَّ ثَلاَثَةَ قُرُوءٍ وَلاَ يَحِلُّ لَهُنَّ أَن يَكْتُمْنَ مَا خَلَقَ اللّهُ فِي أَرْحَامِهِنَّ إِن كُنَّ يُؤْمِنَّ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَبُعُولَتُهُنَّ أَحَقُّ بِرَدِّهِنَّ فِي ذَلِكَ إِنْ أَرَادُواْ إِصْلاَحًا وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكُيمٌ

228. Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri tiga kali quru (suci atau haid. Peny.-). Tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. Dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) ingin berbaikan. Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Perceraian adalah perkara halal yang paling dibenci, karena perceraian itu bersifat memisahkan, sedangkan Allah itu Pemersatu. Perceraian menyiratkan arti bahwa potensi penyatuan antara ilmu dan kebijaksanaan itu tidak tercapai. Sumpah yang dikeluarkan dengan tergesa-gesa, atau karena kebodohan, bisa dengan cepat diperbaiki oleh orang yang berpikiran jernih. Meskipun demikian, niat yang telah terwujud dalam suatu perjanjian seperti pemikahan, harus dilaksanakan menurut aturan main yang berlaku, sehingga terjalin satu tatanan yang baik dalam suatu hubungan. Keraguan dan ketidakpastian mengakibatkan kegelisahan, dan dari kegelisahan muncul kekacauan. Firrnan Allah mewujudkan dirinya dalam kosmos (keteraturan) yang tertata, bukan dalam kekacauan. Suatu komunitas yang beramal baik hanya dapat terwujud jika komunitas tersebut mengikuti hukum-hukum ketuhanan yang mengatur segala urusan.

Tanggung jawab dan kedudukan pria memang berada satu derajat di atas wanita (dalam artian fisik/biologis). Tetapi, hal in tidak berarti wanita berada dalam posisi inferior, melainkan merupakan refleksi dari penciptaan alam. Segala sesuatu disusun menurut tingkatan. Dengan sistem seperti inilah tercipta keseimbangan. Wanita merupakan makhluk vital dalam penciptaan, kesinambungan, dan pemeliharaan hidup suatu spesies. Pentingnya peranan wanita dalam masyarakat tidak dapat diremehkan. Jika dia dihalangi untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan fitrahnya, dan malah dipaksakan memasuki peranan pria dalam masyarakat, maka akan terjadi kerusakan dalam diri keluarga dan masyarakat secara umum. Memang ada kesetaraan antara pria dan wanita dalam suatu keseimbangan ilahi, namun tetap saja kedua makhluk itu tidaklah sama.

Kebanyakan penyakit sosial di zaman kita dapat dilacak pada saat dijungkirbalikkannya peranan alamiah wanita. Kekuatan-kekuatan yang mengendalikan ekonomi dan uang di masyarakat kita sekarang ini seringkali dengan halusnya menggunakan isu-isu persamaan dan isu-isu kemakmuran, sehingga wanita pun dapat masuk ke dalam lapangan kerja. Kini, kedua orang tua harus bekerja mengumpulkan uang untuk memenuhi standar hidup semu yang didasarkan pada penghambur-hamburan dan hidup berlebihan, suatu standar yang telah menjadi norma. Yang penting kuantitas, bukan kualitas. Peranan ibu dalam membesarkan anak sudah diganlikan oleh peranan pengasuh bayi. Aktor-aktor non-alamiah ini, yang motif utamanya adalah keuntungan, sudah mengambilalih hubungan paling penting dalam kehidupan manusia: ikatan berdasarkan cinta antara ibu dan anak (dan keluarga luas) yang merupakan asal dari kepercayaan manusia. Akibat ketidak-seirnbangan ini, maka kita akan melihat semakin meningkatnya penyakit-penyakit psiko-sosial. Manusia tidak dapat seenaknya bermain-main dengan hukum penciptaan dan kemudian pergi begitu saja tanpa merasakan akibatnya. Untuk saat ini dan untuk beberapa aspek, akibatnya adalah ambruk dan pecahnya masyarakat.

الطَّلاَقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ وَلاَ يَحِلُّ لَكُمْ أَن تَأْخُذُواْ مِمَّا آتَيْتُمُوهُنَّ شَيْئًا إِلاَّ أَن يَخَافَا أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلاَّ يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا فِيمَا افْتَدَتْ بِهِ تِلْكَ حُدُودُ اللّهِ فَلاَ تَعْتَدُوهَا وَمَن يَتَعَدَّ حُدُودَ اللّهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ

229. Talak itu dna kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang makruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagimu mengambil kembali dari sesuatu yang telah engkau berikan terhadap Mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas kednanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah engkau melanggamya. Barangsiapa melanggar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang lalim.

فَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ تَحِلُّ لَهُ مِن بَعْدُ حَتَّىَ تَنكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُفَإِن طَلَّقَهَا فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يَتَرَاجَعَا إِن ظَنَّا أَن يُقِيمَا حُدُودَ اللّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْم ٍيَعْلَمُونَ

230. Kemudian, jika suami menalaknya lagi, maka perempuan itu tidak halal lagi baginya, hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian, jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah yang diterangkan-Nya kepada kaum yang mengetahui.

Ayat 231-240

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النَّسَاء فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلاَ تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لَّتَعْتَدُواْ وَمَن يَفْعَلْ ذَلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ نَفْسَهُ وَلاَ تَتَّخِذُوَاْ آيَاتِ اللّهِ هُزُوًا وَاذْكُرُواْ نِعْمَتَ اللّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُمْ مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ يَعِظُكُم بِهِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَ اعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

231. Apabila kalian menalak isteri-isteri kalian, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang makruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang makruf pula. Janganlah kalian rujuki mereka untuk memberi kemudaratan, karena dengan demikian kalian menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat lalim terbadap dirinya sendiri. Janganlah kalian jadikan hukum Allah sebagai permainan. Dan ingatlah nikmat Allah pada kalian, dan apa yang telah diturunkan Allah kepada kalian, yaitu Alkitab dan As-sunah. Allah memberi pengajaran kepada kalian dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاء فَبَلَغْنَ أَجَلَهُنَّ فَلاَ تَعْضُلُوهُنَّ أَنيَنكِحْنَ أَزْوَاجَهُنَّ إِذَا تَرَاضَوْاْ بَيْنَهُم بِالْمَعْرُوفِ ذَلِكَ يُوعَظُ بِهِ مَن كَانَ مِنكُمْ يُؤْمِنُ بِاللّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكُمْ أَزْكَى لَكُمْ وَأَطْهَرُ وَاللّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لاَ تَعْلَمُونَ

232. Apabila kalian menalak isteri-isteri kalian, lalu habis iddahnya, maka janganlah kalian menghalangi Mereka kawin lagi dengan calon suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan car yang makruf. Itulah yang dinasihatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kalian kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagi kalian dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kalian tidak mengetahui.

وَالْوَالِدَاتُ يُرْضِعْنَ أَوْلاَدَهُنَّ حَوْلَيْنِ كَامِلَيْنِ لِمَنْ أَرَادَ أَن يُتِمَّ الرَّضَاعَةَ وَعلَى الْمَوْلُودِ لَهُ رِزْقُهُنَّ وَكِسْوَتُهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ لاَ تُكَلَّفُ نَفْسٌ إِلاَّ وُسْعَهَا لاَ تُضَآرَّ وَالِدَةٌ بِوَلَدِهَا وَلاَ مَوْلُودٌ لَّهُ بِوَلَدِهِ وَعَلَى الْوَارِثِ مِثْلُ ذَلِكَ فَإِنْ أَرَادَا فِصَالاً عَن تَرَاضٍ مِّنْهُمَا وَتَشَاوُرٍ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْهِمَا وَإِنْ أَرَدتُّمْ أَن تَسْتَرْضِعُواْ أَوْلاَدَكُمْ فَلاَ جُنَاحَ عَلَيْكُمْ إِذَا سَلَّمْتُم مَّآ آتَيْتُم بِالْمَعْرُوفِ وَاتَّقُواْ اللّهَ وَاعْلَمُواْ أَنَّ اللّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Back Index Next