SURAH AL-FIL

“GAJAH”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang.

Surah ini berkenaan dengan peristiwa yang terjadi, sejauh pengetahuan kita, pada tahun kelahiran Nabi. Walaupun kisah ini terkenal dan banyak disebut-sebut pada waktu itu, namun sedikit sekali penjelasan aktual yang ada tentang peristiwa tersebut. Kita tahu bahwa orang lain sangat iri kepada penduduk Mekah dan kaum Quraisy, yang, sebagai penjaga Rumah Tuhan, memegang posisi sangat terhormat di kalangan bangsa Arab. Salah satu rival mereka adalah Kaisar Habasyah (sekarang Ethiopia). Melalui raja muda mereka Abrahah di Yaman, ia membangun apa yang diyakininya sebagai Ka'bah lain, kali ini di San'a, untuk menyaingi Ka'bah di Mekah. Ka'bah kedua ini tidak menarik para peziarah dalam jumlah seperti yang diharapkan sang Kaisar, maka ia mengirim pasukan besar, yang didahului oleh gajah-gajah, untuk menghancurkan Ka'bah di Mekah. Ia yakin bahwa San'a akan menjadi pusat ziarah yang paling penting di belahan dunia itu.

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ

1. Apakah engkau tidak melihat bagaimana Tuhanmu berurusan dengan para pemilik gajah?

Relevansinya di sini adalah konfrontasi antara kekuatan dan kekuasaan yang sangat besar, dan pertentangannya yang langsung. Pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa kekuatan nyata tidak dapat diukur dengan cara biasa. Penghancuran bala tentara yang telah dikirim untuk menghancurkan Ka'bah bukanlah suatu kekuatan gaib tapi, ma-lah, merupakan fenomena alamiah yang mengumandangkan kelahiran Nabi—menunjukkan pancaran Sinar yang agung di tengah kegelapan.

Untuk memahami makna gajah ini kita harus menyadari bahwa apa pun senjata yang dimiliki manusia pada waktu itu adalah lemah dan jarang. Pada sebuah negeri di mana para pejuangnya memiliki paling banyak hanya beberapa buah tombak dan pedang tumpul saja, maka dengan memiliki seekor gajah menunjukkan bahwa pemiliknya nyaris dianggap sebagai seorang kaisar.

أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ

2. Bukankah Ia menyebabkan strategi mereka berakhir dengan kacan-balau?

Kayd berarti 'komplotan yang licik', atau 'rencana yang licik'. Bukankah Allah membuat komplotan mereka yang sudah direncanakan dengan baik berjalan serba salah?

وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ

3. Dan mengirimkan sekawanan makhluk terbang untuk melawan mereka,

Ababil berarti 'kawanan'. la tidak mesti hanya menunjuk kepada kawanan burung, tapi juga kepada jumlah besar yang membanjiri.

تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ

4. Melempari mereka dengan bebatuan dari tanah liat yang dibakar.

Sijjil berarti 'batu seperti bongkahan tanah liat kering'. Kata ini dikaitkan dengan kata keija sajala yang berarti 'mencatat, menuliskan' atau 'mendokurnentasikan'. Terdapat banyak penafsiran mengenai ayat ini. Kita tidak tahu fenomena macam apa ini, apakah itu benar-benar badai yang membawa sekawanan makhluk yang berukuran kecil sekali, seperti burung-burung, yang menimpuki pasukan besar ini dengan batu (sijjil) yang dapat menembus daging mereka, ataukah itu suatu penyakit yang tiba-tiba menjalari mereka (banyak penyakit seperti campak dan cacar tidak teridentifikasi pada masa itu), yang mungkin dibawa oleh burung-burung atau serangga. Meskipun terdapat fakta bahwa kejadian ini diketahui dan dibicarakan di mana-mana, kita masih tidak tahu sifat sebenarnya dari serangan tersebut karena pada masa itu pemahaman manusia mengenai fenomena alam tidak seterang pemahaman kita zaman sekarang. Kita hanya tahu bahwa pasukan besar ini tiba-tiba hancur sama sekali begitu ia mendekati Ka'bah.

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ

5. Maka Ia menjadikan mereka seperti jerami yang dilahap.

Akibat serangan itu adalah bahwa bala tentara yang jumlahnya banyak sekali ini menjadi bagaikan tunggul jerami padi atau rerumputan yang tersisa setelah dipangkas. Pada sebagian penjelasan dikatakan bahwa setelah penghancuran ini, tanah terlihat bagaikan alas datar yang terbuat dari ribuan tentara musuh dan gajah-gajah mereka tergeletak di atasnya.[]