SURAH AL-TAKATSUR

“PENIMBUNAN HARTA”

بِِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Dengan Nama Allah, Maha Pengasih, Maha Penyayang

Manusia selalu berharap mendapatkan karunia atau pertambahan—dan segala sesuatu di dunia ini senantiasa bertambah—sehingga, karena memang sifatnya, ia mencari tambahan dalam setiap aspek kehidupan meskipun mungkin saja hal itu berarti pengurangan dalam aspek lain. Umpamanya, pertambahan dalam kesombongan atau pengharapan seseorang pada hakikatnya merupakan pengurangan sifat luhurnya.

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

1. Penimbunan melalaikan kamu,

حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

2. Sampai kamu mendatangi kubur,

Penjelasan khusus mengenai ayat ini berkenaan dengan suatu peristiwa ketika jumlah pengikut Nabi sedang dihitung oleh musuh-musuhnya di Mekah, yakni kaum Quraisy. Mereka bangga dan menyanjung diri mereka sendiri karena jumlah mereka melampaui kaum muslim. Tapi, dalam penghitungannya temyata jumlah yang mereka peroleh itu termasuk mayat-mayat dari anggota mereka yang mati. Setiap keluarga ingin kelihatan lebih kuat dibanding yang lain, dan untuk itu para anggota keluarga mereka pergi ke pemakaman lalu menghitung mayat mereka agar dapat mengklaim bahwa mereka lebih kuat.

Cara lain mengkaji ayat-ayat ini adalah dengan memahami bahwa kuburan mewakili tubuh. Jika kita melihat pada tubuh kita sebagai sumber kekuatan, berarti kita tidak sedang melihat ke arah yang benar.

Penjelasan mengenai dua ayat ini adalah, 'Harta, keluarga, dan sukumu serta jumlah mereka membuat kamu bangga, dan itu kebalikan dari takut, padahal tujuan dari kehidupan kita adalah berada dalam kesadaran yang terus-menerus, dalam keadaan ingat akan Allah (zikir). Dalam keadaan demikian kita tahu bahwa apa pun yang memalingkan kita akan membawa kita pada kelalaian'. Namun, sebenarnya apa pun selain Allah adalah tidak ada. Jika kita mencoba melihat pada apa saja selain yang sudah dan akan terjadi, berarti kita sedang memperturutkan pemikiran yang keliru.

Pertambahan secara duniawi merupakan salah satu bentuk kesulitan kita yang pertama karena ia akan membawa dampaknya sendiri. Jika kita memiliki harta, maka orang lain berusaha mengambilnya; jika kita mempunyai keluarga, maka kita harus menjamin nafkahnya terus-menerus, dan sebagainya. Keberlimpahan akan mendatangkan kelalaian kalau kita tidak sungguh-sungguh di jalan yang benar. Jika fi sabilillah (di jalan Allah), maka pertambahan tersebut akan menjadi urusan Allah.

كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

3. Tidak! Engkau akan segera mengetahui.

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

4. Sekali lagi tidak! Engkau akan segera mengetahui.

كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

5. Tidak! Sekiranya engkau mengetahui dengan ilmu yang pasti,

Kita akan mengetahui hanya jika kita mencari ilmu yang pasti (ilm al-yaqin). Dengan secara cermat mengamati berbagai peristiwa kita akan mengetahui konsekuensinya masing-masing, sehingga paling tidak kita akan mempunyai kepastian tentang kapan semua peristiwa itu akan berakhir. Namun, dalam kehidupan ini ada perintah kepada semua orang baik laki-laki maupun perempuan untuk mencari ilmu. Nabi berkata, 'Carilah ilmu, sekalipun ke negeri Cina,' dan dari sejak lahir kita pun selalu ingin mengetahui ilmu. Ilmu di sini berarti ilmu batin, dan ilmu batin yang sejati adalah kepastian.

لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ

6. Engkau pasti akan melihat api neraka;

Jika manusia mencari ilmu, ia akan melihat api neraka di sini dan saat ini. Meskipun api besar akan datang kelak, namun akarnya sudah ada di sini dan akan seutuhnya menjelma di kehidupan mendatang. Kita akan dapat memahami makna api di sini dan saat ini jika kita melihat ke dalam hati yang paling dalam, jika kita ingin memiliki ilmu batin itu.

ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ

7. Lalu engkau pasti akan melihatnya dengan penglihatan yang pasti;

Pertama-tama neraka dikenal melalui 'ilm al-yaqin (ilmu yakin/pasti). Kemudian, jika ada hal yang luput dari kita setelah melalui ilmu yakin, maka kita akan melihatnya melalui 'ayn al-yaqin (penglihatan yang pasti). Kemudian setelah itu kita akan sampai pada proses mengetahui kebenaran melalui haqq al-yaqin (kebenaran yang pasti). Jika tidak ada yang luput dari kita setelah itu, dan kita sudah menjadi kesadaran yang sejati, maka kita menjadi baqq al-haqq (kebenaran dari kebenaran). Keadaan neraka sudah jelas dan merupakan bentuk keadilan yang besar di mana ketidakjelasan atau ambiguitas akan berakhir.

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

8. Lalu pada bari itu engkau akan ditanya tentang keuntungan dan kenikmatan.

Lalu pada hari akhir itu, pada Hari Pengadilan, dalam kemutlakkan, kita akan ditanya tentang nikmat dan kesenangan hidup yang diberikan kepada kita. Tiba-tiba kita akan melihat apa yang telah kita hambur-hamburkan, dan bagaimana kita menyalahgunakan dan mengingkari nikmat Allah dan potensi yang diberikan kepada kita untuk mencari dan memperoleh ilmu. Apa yang halal bagi kita akan diperhitungkan dan kita akan dimintai pertanggungjawaban atas cara kita menghabiskan waktu kita, apakah digunakan untuk tidur, atau menunggu makanan berikutnya, dan sebagainya. Lalu kita akan bertanya kepada diri kita sendiri mengapa kita tidak menyadari terhadap kepastian hari ini, dan kita akan mengetahui bahwa kita tidak sadar karena kita terlena oleh penimbunan dan penambahan harta kita dalam segala bentuknya.[]